free counters
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Cerpen : Mungkin Bukan Jodohku

Usai mengikuti pengajian rutin disekolah tempat mereka mengajar.
“ Luna, gak biasanya kamu gini. Apa kamu sakit ? koq kelihatannya dari tadi melamun terus “ Tanya Rahmi sambil jalan menuju ke rumah.
“ seandainya kamu tahu apa yang ada dihatiku Rahmi, kau pasti gak akan terima ini…” gumam Luna dalam hati.
“ hallo….” Tegur rahmi membuyarkan lamunannya.
“ ha, oh,. Ehm… gak papa kok mi, oh ya gimana? tadi malam jadi kerumah Bu Zuraidah ?, trus gimana hasilnya ? “ jawab Luna mengalihkan pembicaraan.
“ sudah kubilang. Untuk sekarang ini, aku belum mau memikirkan hal itu. Pernikahan merupakan suatu hal yang sakral, yang harus kita jalani dengan serius, karena itu bukan sementara, tapi untuk selamanya…” ucap rahmi sedih. Ia terus memikirkan ayahnya yang sakit – sakitan. Ia masih ingin terus mengurusnya. Ia tak tega kalau harus meninggalkannya. Sementara Bu Zuraidah, ketua yayasan mereka, ingin menjodohkan Rahmi dengan salah satu guru disitu.
“ Rahmi, aku ngerti kok perasaanmu. Tapi cobalah kamu istikharah meminta petunjuk kepada Allah. Kesempatan tidak datang dua kali. Pak Ferdhi sangat cocok untukmu. Dia seorang Da’i. Kami semua guru – guru disini mendukung..” ucap Luna membesarkan hatinya, sambil menghapus setetes air mata Rahmi yang tiba – tiba saja jatuh mengingat ayahnya yang sedang sakit. Mereka berhenti sesaat. Sebenarnya Luna tidak tega kalau harus merebut ferdhi dari tangannya karena Rahmi begitu akrab dengannya.
***
Malam itu.
Kepala luna sakit sekali, mengingat ucapan yang baru saja didengar. Ia menangis. Masih terngiang ditelinga ucapan ibunya.
“ Luna, kapan lagi kamu menikah…?, sudah dua adikmu yang melangkahimu, cepat – cepatlah kamu cari jodoh. Ibu sudah ingin menimang cucu dari kamu..”
Ia masih duduk terdiam ditempat tidur, melihat fhoto kekasihnya. Selaksa raut wajah dan tragedi itu terputar kembali mengenang masa lalunya.
Pesta yang megah telah digelar. Seratus undangan lebih telah tersebar. Tapi bukannya mempelai laki – laki yang datang, malahan seorang lelaki berkumis tebal, berbaju seragam cokelat dan bertitel, datang dan menanyakan kejelasan KTP yang diberikan. Korban kecelakaan lalu lintas.

Gaun kebaya yang masih melekat, menjadi saksi perpisahan mereka dirumah sakit. Sang calon suami hanya diam terbujur lemas bersanding infus dan hirupan oksigen yang melekat di wajahnya. Ia mengejar dokter usai proses operasi. Namun dokter berkata, “ hanya ini yang sanggup kami lakukan. Tuhanlah yang menentukan segalanya. “ ucap dokter itu sedih penuh penyesalan. Mendengar itu, perasaan bahagia dan cinta yang telah terbangun lama, kini roboh berserakan. Jilbab yang anggun, tak lagi tertata rapi oleh sedihnya. Lututnya melantai. Derai air matanya tak kunjung henti. Dalam hati ia ingin berteriak, ya Rabb…. Kenapa kau timpakan ini padaku?

Sepertiga malam ia habiskan untuk bermunajat kepada Allah swt. Ia terus menangis, memohon pada yang Kuasa, agar dimudahkan jodohnya. Sebenarnya beberapa calon telah ditawarkan kepadanya. Ada yang pengusaha, PNS, angkatan, bahkan ada yang ingin melamarnya seorang konglomerat. Namun semua itu ia tolak. Apalah artinya harta yang melimpah apabila tidak dilandasi keimanan dan ketaqwaan yang dapat mengokohkan bahtera rumah tangga. Semua itu ia tuangkan dalam diary mungil, selepas tahajjudnya.
***

Fajar sidik mulai membangunkan sang mentari dari peraduannya. Selesai sholat subuh, ia tidur kembali.
“ Luna, kamu gak ngajar ?, sekarang sudah jam delapan..” ibunya membangunkan dengan lembut.
“ astaghfirullah…” ucapnya tersentak saat mendengar jam delapan. Langsung ia berberes dan mempersiapkan segala sesuatunya. Bukupun asal sahut saja tanpa melihat – lihat lagi yang mana yang akan diajarkan nanti.
***

Ferdhi tiba di sekolah telat. Ia melihat Madrasah sepi. Beberapa orang tua menggandeng tangan anaknya kembali pulang.
“ kenapa pulang bu?” Tanya ferdhi penuh penasaran, sambil memarkir sepeda motornya dan melepas helm dari kepalanya.
“ lho kok Bapak gak pergi?, ayahnya bu rahmi sekarang sedang kritis di rumah sakit. Semua guru menjenguk kesana. Anak – anak hari ini diliburkan.” Jawab orang tua murid.

Ferdhi langsung balik arah menuju rumah sakit. Tapi ketika ia sampai disimpang, angkot warna putih berhenti didepannya. Luna turun tergesa.
“ Bu Luna.. ,” panggil Ferdhi mengejutkan.

Baru saja Luna membayar ongkos pada pak supir.
“ ada apa pak?” Tanya Luna heran. Jarang sekali Ferdhi mau ngobrol dengan rekan guru akhwat. Kecuali ada sesuatu hal yang sangat penting. Dengan singkat ferdhi memberitahukan kabar yang ia dapat. Merekapun bergegas ingin pergi ke rumah sakit. Luna sangat segan dan ragu, ingin minta bonceng. Begitu juga ferdhi. Ia sangat menjaga hijab. Mungkin ia lebih baik memberikan sepeda motornya untuk luna kendarai, daripada harus memboncengnya.
“ Bu Luna naik angkot saja ya?”
“ ya pak. Gak papa, Bapak duluan saja. Nanti saya menyusul. “

Madrasah sunyi. Semua murid – murid sudah dijemput oleh orang tuanya. Ada juga yang pulang sendiri karena rumahnya dekat. Ferdhi tidak tega harus meninggalkannya luna sendirian. Iapun menunggu Luna sampai dapat angkot. Satu setengah jam mereka menunggu angkot. Tetap tak tampak melintas. Angkot lintas ke madrasah memang sangat jarang. Satu – satu. Apalagi kalau sudah jam delapan keatas. Tidak ada sewa. Para pekerja dan pelajar sudah berada ditempatnya masing – masing. Angkot – angkot itu juga menunggu sewa diterminal sampai penuh, baru mau berangkat.
Mereka resah. Entah apa yang sudah terjadi dirumah sakit sana. Mereka ingin segera kesana. Ferdhi juga bingung. Satupun becak juga tak ada yang muncul. Kalaupun ada, sudah berisi kian penumpang yang ia bawa dari tempat mangkal. Mentari semakin meninggi.

Mereka tidak mungkin melama – lamakannya. Saat darurat, segala sesuatu yang tidak boleh menjadi boleh. Gak mungkin ferdhi meninggalkan Luna sendiri ditempat yang sepi. Ferdhi mempersilahkan Luna naik disepeda motornya. Mereka segera meluncur. Ferdhi cukup tangkas menerobos mobil – mobil besar yang mengangkut pasir dan batu.
Luna juga tahu batas. Tidak seperti remaja sekarang pada umumnya. Gak tahu malu. Boncengan dengan bukan muhrimnya. Memeluknya layaknya suami istri. Bahkan mungkin suami istripun malu melakukan itu ditempat umum. Dasar zaman edan !!

Dus, mereka sampai dirumah sakit. Sejurus kemudian, mereka menemui guru – guru lainnya yang telah lama berada disana. Keluarga Rahmi berada didepan ruang gawat darurat. Spontan Bu Zuraidah mendekati Ferdhi dan menggiringnya ke sudut ruangan.
“ Pak Ferdhi, mungkin hanya Bapak yang dapat menyelamatkan ini. Rahmi sedari tadi pingsan belum siuman. Ia sangat takut ayahnya meninggal. Dari sekian orang saudaranya, hanya Rahmi-lah yang paling disayang oleh ayahnya” ucap Bu Zuraidah penuh pengharapan dan sedih. Ia melanjutkan..
“ sebelum ayahnya sakit, ayahnya berpesan bahwa ia ingin melihat Rahmi menikah sebelum ia pergi…, entah apa maksudnya. Tolonglah Pak Ferdhi, Rahmi orangnya ta’at, ia sabar dan sebentar lagipun akan diwisuda. Cocok untuk jadi da’iah pendamping pak Ferdhi”, jelasnya runut, mendesak penuh harapan. Wajahnya memelas.

Sebenarnya telah lama juga Ferdhi jatuh hati pada Rahmi. Ia beda dengan guru – guru yang lainnya, yang hanya memakai jilbab dan rok saat mengajar saja. Bahkan rahmi sering ikut pengajian rutin ibu – ibu arisan yang diisi oleh Ferdhi. Jilbabnya yang menjulur lebar, baju gamisnya yang longgar dan panjang, mampu menusuk hati Ferdhi bagai panah asmara. Seketika itu juga Bu Zuraidah mengurus tuan kadi dan mahar yang ala kadarnya. Asal ini berlangsung.

Sementara itu, Luna terus mengipasi Rahmi yang tengah pingsan di ruang tunggu dengan buku yang asal cabut dari tasnya. Tapi tiba – tiba saja tangan Luna di tarik oleh salah satu guru yang lain, sebentar keluar. Kondisi ayah Rahmi semakin parah. Buku yang dipakai luna untuk mengipas, tertinggal disamping Rahmi yang mulai sadar.
Tanpa sengaja rahmi membuka buku itu. Wangi penuh hiasan stabilo dan tinta warna. Itu buku diary Luna. Ia buka halaman terakhir…

Jum’at, 22 januari 2010
Pukul 03: 15
……..
“ ya Rabb, seandainya aku boleh menjual diriku, akan kuberikan seluruh jiwa dan ragaku untuknya seorang. Aku mencintainya karena keimanan dan ketaqwaannya. Namun aku tak mau menjadi pagar makan tanaman. Biarlah pak Ferdhi bahagia dengan Bu Rahmi.
Rabbighfirli ala kulli dzunubi..
***

Semua berkumpul diruang UGD. Termasuk Rahmi yang dibopong masuk oleh guru yang lain. Bu Zuraidah sudah mengkonfirmasikan ke dokter yang menangani ini. Iapun mendapat izin.
“ayah !! bangun ayah. Sekarang Rahmi akan penuhi permintaan ayah…” ucapnya sesenggukan dengan terus mengharap jawaban. Air matanya tak terbendung. Tuan kadi, Ferdhi, Bu Zuraidah, Luna dan rekan guru lainnya juga cemas. Namun jawaban yang keluar, lain dari apa yang diharapkan.

Titttttttt……
Gambar gelombang deteksi jantung dilayar monitor bergaris lurus. Innalillahi wa inna lillahi roji’un…
Suasana haru pilu berkelebat dalam ruangan itu. Ferdhi, Luna, Bu Zuraidah, tuan kadi, rekan guru dan beberapa suster yang direncanakan akan jadi saksi nikah, melihat Rahmi yang tengah sedih tak karuan. Ia memeluk ibunya dan terus menangis. Tak ada yang berani mengusik mereka.

Cepat – cepat Ferdhi membenahi posisi ayahnya. Mengatur perlengkapan mayat seadanya. Sementara Bu Zuraidah menyelesaikan administrasi rumah sakit agar jenazah ayahnya cepat dibawa pulang. Tapi Luna, ia hanya bisa melihat sosok sahabat karibnya tengah berkabung. Kasihan. Dalam beberapa minggu ini Rahmi terus sedih memikirkan ayahnya.

Luna mendekati Rahmi. Ia memeluknya. Sesaat hanyut dalam kesedihan.
“mi, kamu harus ikhlas ya. Semua ini sudah kehendak yang kuasa..” ucapnya berusaha menyeka air mata Rahmi dipipinya.
Setelah selesai memposisikan jenazah, Ferdhipun menghampiri mereka. Ia memberi semangat agar terus positif menatap hidup ke depan. Namun semua itu tetap tak dapat melunturkan kesedihan rahmi. Tatapan matanya kosong. Fikirannya buntu. Tapi entah kenapa, saat melihat mereka berdua, ia jadi teringat dengan tulisan yang sempat ia baca di diary Luna tadi.
“Setidaknya aku bahagia melihat kalian berdua bahagia” ucap Rahmi yang tiba – tiba bereaksi. Ia menarik tangan Luna dan Ferdhi yang beralaskan baju kokonya. Begitu juga saat disatukan. Tangan Ferdhi diletakkan ditangan yang berbalut gamisnya. Luna masih bingung
“aku sudah membaca buku diary mu na, aku ingin kalian menikah”. Lanjut Rahmi pasrah. Semua yang mendengar bergetar heran dengan keputusan rahmi. Bu zuraidah menatap penuh kebimbangan. Bahagia dalam pilu. Dua sahabat yang saling mencintai karena Allah. Didepan rahmi, tuan kadi menjalankan prosesi akad nikah untuk Luna dan Ferdhi. Sungguh mulia hati Rahmi. Disaat kekalutannya ia masih bias memikirkan orang lain.
Tahajjud luna tak sia – sia. Allah tidak tidur. Ia maha tahu isi hati hambanya. Dan cintapun merebak dengan ikhlasnya.

Tamat
Selesai februari 2010
Direvisi, 20 November 2010
Di sipange
PROFIL PENULIS
Mardiono, Lulus SMK Negeri 7 Medan, jurusan akuntansi tahun 2004.Dan telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di STAI BU PANDAN Maret 2012.

Bagi sobat blogger yang suka dengan cerpen ini, silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id/, atau download filenya di sini :

Download Button
Sumber http://www.lokerseni.web.id/

Rabu, 20 Juni 2012

Cerpen : Gara-Gara SMS

Lily, cewek cuek yang sama sekali nggak mau tau tentang cowok lain selain cowok yang dipujanya, Aldo. Aldo memang cowok yang cukup populer di sekolahnya, terlebih lagi dia tergabung sebagai angoota tim basket yang
jelas banyak digandrungi banyak cewek, termasuk Lily. Siapa sih yang nggak tergila-gila sama Aldo si cowok super ??
Sari, sahabat Lily hanya bisa menerima keadaan kalau Lily sahabatnya suka sama Aldo saudaranya sendiri. Sari bahkan dibuat bosan karna tiap hari harus sarapan dengan cerita tentang Aldo karya Lily. Sayangnya Lily tidak berani nelpon atau SMS Aldo karena takut cuma dikerjai oleh cowok yang iseng ngaku-ngaku sebagai Aldo. Maklum, banyak banget yang pengen jadi seorang Aldo. Siapa sih yang nggak mau jadi cowok terkenal di

sekolah dan digandrungi banyak cewek ???
Nggak bisa dipungkiri memang Aldo hampir bisa dibilang perfect. Dia ganteng, manis, putih ( kaya tembok ), pinter, baik pula, tapi sayang dia sudah terlanjur di cap sebagai playboy. Padahal dia nggak seperti itu, bela Lily.
Pada suatu saat, Aldo putus dari pacarnya yang bernama Sissy. Sissy terkenal sebagai cewek matre yang kerjaannya cuma bisa morotin cowok yang digandengnya. Memang dia
cantik, tapi hatinya nggak cantik. Aldo telah tertipu oleh cinta palsu Sissy. Tapi
denger-denger sih katanya Aldo naksir beneran sama Sissy sejak dulu.
Saat tau kalau Aldo udah putus dari Sissy, hati Lily senang tak karuan. Meskipun Aldo nggak bisa jadi
miliknya, seenggaknya Aldo bisa dapetin yang terbaik dari Sissy, begitu menurutnya.
“ Ly, kamu nggak mau SMS Aldo ?? Meskipun cuma sekedar kenalan gitu ?” tanya Sari.
“ Tanpa aku jawab pasti kamu udah tau jawabannya kan ?” balas Lily sambil menaikkan alis.
“ Kenapa pesimis gitu sih ?? Kan belum dicoba Ly ”, semangat Sari.
“ Males ah Sar, nggak yakin kalo Aldo bakal ngerespon”, balas Lily.
“ Ya udah deh terserah kamu. Itu artinya kamu cemen, nggak berani nunjukin cintamu ke dia “, celetuk Sari.
“ Whatever you say “, celetuk Lily.
Ini udah keseribu kalinya Sari nyuruh Lily buat SMS Aldo. Cuma satu alasannya, karena Sari nggak mau liat sahabatnya cuma sekedar jadi pemuja rahasia Aldo aja. Padahal tinggal minta nomer HP Aldo ke Sari, Lily udah bisa puas SMSan sama Aldo. Tapi tetep jawaban Lily, TIDAK.
“ Lagian Aldo nggak kenal sama aku Sar. Dan aku juga bukan tipenya
dia. Selama ini kan pacarnya dia cantik-cantik, kaya-kaya, sedangkan aku ?? Aku nggak punya apa-apa Sar “, ucap Lily pesimis.
“ Kamu tau nggak kalo Aldo itu gampang banget jatuh cinta ?? Siapa tau aja dia bisa suka sama kamu Ly “, ujar Sari meyakinkan Lily. Lily tetap menggeleng.
Akhirnya Sari cuma bisa bernafas kesal karna tau usahanya sia-sia belaka. Emang aneh si Lily, dimana-mana kalo orang ngefans pasti kan seenggaknya minta nomor HP atau alamat facebook, atau apalah. Tapi enggak dengan Lily. Dia membiarkan perasaan cinta yang dipendamnya membebani pikiran dan bergelayut di dalam hatinya saja. Dia terlalu payah.
***

Suatu sore yang cerah, Aldo main ke rumah Sari. Mukanya keliatankusut banget. Enggak tau sebab musababnya apa. Tapi yang jelas, kemarin dia putus sama Sissy, dan itu anugerah buat Lily.
“ Kenapa Do ? Kok mukanya ditekuk gitu ?” Tanya Sari.
“ Keliatan banget yah kusutnya ? Belum sempet aku setrika emang”, balasnya enteng. Sari terus memandangi wajah Aldo yang tampak tak seperti biasanya.
“ Abis putus sama Sissy yah ?” balas Sari dengan nada agak menyindir.

Aldo hanya terdiam. Dia menyesali cintanya kepada Sissy yang ternyata hanya di balas dengan kedustaan saja. Aldo menyesal selama ini telah membangga-banggakan Sissy yang ternyata hanya mencintai uangnya saja.
“ Daripada hidup kamu berantakan nggak jelas gini, mending aku kenalin sama temenku “, usul Sari bersemangat.
“ Nggak mau “, balas Aldo singkat.
“ Sampai kapan kamu mau kaya gini terus Do ?” Tanya Sari.
Aldo hanya terdiam. Terpaksa Aldo menerima saran Sari, untuk berkenalan dengan teman Sari yang tak lain adalah Lily. Engga ada salahnya dicoba, pikir Aldo.
Sementara sore itu, tiba-tiba nomor HP tak dikenal masuk di HP Lily. Tapi Lily cuek tak membalas SMS itu.
Setelah menunggu beberapa saat, Aldo putus asa. Di missed calls-nya nomor HP Lily sampai yang ke-17 kalinya.
Akhirnya telfon Aldo yang ke-18 di angkat oleh Lily. Tapi Lily tidak bicara sepatah dua kata pun, lalu merejectnya. Aldo bersusah payah berusaha agar SMSnya di balas oleh Lily. Meskipun Aldo belum tau siapa yang dia SMS, tapi entah kenapa dia ingin sekali SMSan sama Lily.
+62815155567xxx
Hai, bleh knal ga ?

Pesan dari nomor itu terus mengganggu Lily. Akhirnya dengan terpaksa dia membalas SMS dari seseorang yang mengaku namanya Ardi.
Seringkali Lily tidak membalas SMS dari Aldo, alasannya males karna belum tau siapa yang SMS dia selama ini. Padahal yang SMS dia adalah cowok yang selama ini dipujanya setengah mati. Tapi sayang Lily tak menyadari itu.
***

Setelah hampir dua bulan mereka SMSan, akhirnya mereka memutuskan untuk ketemuan di Taman Indah pada suatu sore.

Saat Lily duduk di bangku taman, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya yang tak lain adalah Aldo.
“ Eh Aldo, nunggu seseorang ya ?” sapa Lily sok ramah. Padahal dia yakin kalo Aldo nggak kenal dia.
“ Iya nih Ly. Kamu ngapain disini ? Nunggu seseorang juga ?” balas Aldo.

Lily tak percaya mendengarnya. Aldo tau nama Lily, ini sebuah keajaiban yang tak pernah Lily duga.
“ Iya, mau nunggu seseorang yang nggak aku kenal. Dia SMS aku, ngakunya sih namanya Ardi”, jawab Lily.
“ Ardi ?? Jadi kamu Lily Oktavia temennya Sari itu ?” Tanya Aldo tak percaya. Lily hanya mengangguk.

Tiba-tiba Aldo menjulurkan tangan kanannya. “Aldo RahARDIan”, ujarnya sambil menyalami Lily.
“Iya aku tau nama kamu Aldo RahARDIan. Trus kenapa ?” Tanya Lily tak mengerti.
“ Aku Ardi yang SMS kamu”, jawab Aldo tanpa dosa. Lily masih tak mengerti.
“ Serius ??” Tanya Lily meyakinkan. Aldo mengangguk.
“ Jadi yang selama ini SMS aku itu kamu ??” Tanya Lily sekali lagi.

Aldo mengangguk.
“ Kenapa ngga bilang sih ??” gerutu Lily lagi.
“ Aku juga ngga tau kalo ternyata yang aku SMS itu kamu”, balas Aldo.
“ Trus kamu dapet nomerku dari mana ?” Tanya Lily lagi. Kali ini dia bener-bener mirip sama Pak Polisi yang menginterogasi orang yang melanggar peraturan lalu lintas. Tapi sayangnya Aldo bukan kena tilang karna melanggar peraturan lalu lintas, tapi melanggar aturan karna sudah tertarik sama Lily yang bukan siapa-siapa.
“ Dari Sari “, balas Aldo singkat.
“Hmmh..” Lily hanya berdehem.

Setelah sore mereka bertemu, Lily langsung ke rumah Sari. Dia ingin memarahi Sari habis-habisan.
“ Kamu ngasih nomerku ke Aldo ya ??” bentak Lily.
“ Iya” jawabnya polos seakan tak bersalah.
“ Kenapa di kasih sih Sar ?? Kenapa ngga minta izin aku dulu ??” ujar Lily dengan manja.
“ Kelamaan. Yang penting kamu sekarang seneng kan ??” celetuk Sari.
“ Hehe, iya sih. Makasih ya Sari sahabatku yang paling baik sedunia dan akhirat ” manja Lily.
Sari hanya mengangguk.
***

Sore harinya, Aldo mengajak Lily ketemu di Taman Indah, tempat pertama kali mereka bertemu.
“ Ada apa Do ??” tanya Lily sesampainya disana.
“ Aku mau ngomong sesuatu” terangnya.
“ Apa ??” tanya Lily penasaran.
“ To the point aja yah ??” ujar Aldo.
“Iya, apa ?” Tanya Lily tak sabar menunggu. Berharap apa yang selama ini dia impikan bisa menjadi kenyataan.

Tiba-tiba Aldo memegang tangan Lily. Jantungnya semakin berdebar-debar tak karuan.
“ Aku suka sama kamu. Would you be my girlfriend ??” ucap Aldo penuh harap Lily akan menerimanya.

Jantung Lily semakin berdebar-debar. Dirasanya lemas sekujur tubuhnya. Apa yang selama ini menjadi khalayannya ternyata menjadi kenyataan. Lily tak percaya ini benar-benar terjadi.
“ Do you really love me ??” Tanya Lily meyakinkan. Secara gitu, masak sih Aldo yang serba super suka sama cewek standar ?? That’s so impossible, pikirnya.
“ Yes, I really love you. And I want you’ll be my girlfriend”, ucap Aldo memelas.

Lily terdiam.
“ Gimana ?? Aku ngga maksa kamu buat jawab sekarang kok”, ujar Aldo.
“ Hmmh.. Aku takut pilihanku salah”, balas Lily.
“ Semua terserah kamu, pilihan ada di tanganmu” pinta Aldo.
Setelah hening beberapa saat, akhirnya Lily mengangguk dengan pasti. Meskipun dia tau kalo nantinya akan terluka karna banyak juga yang akan sirik padanya, tetapi dia hanya berfikir kalau kesempatan tidak datang dua kali.
Aldo tersenyum senang, lalu mencium kening Lily.
Entah apa yang mereka rasakan saat itu, yang pasti mereka bahagia.
Dan pada akhirnya apa yang Lily khayalkan selama ini menjadi kenyataan.

PROFIL PENULIS
Nama : Dewi Hartami Putri
Saya tinggal di Mojokerto, kelahiran Blitar.
Rumah saya ada di Dsn. Latsari RT 01 RW 03 Ds. Mlirip Kec. Jetis Kab. Mojokerto.
Suka banget sama yang namanya nulis :)
Sekola di SMKN 1 Sooko Mojokerto jurusan Administrasi Perkantoran.
Add facebookku yaa, Dewi Hartami Putri.
Makasi dan salam kenal :)

Bagi sobat blogger yang suka dengan cerpen ini silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id/, atau download filenya di sini :
Download Button

Cerpen : Pangeran Tak Berkuda


Dalam proses pertumbuhan seseorang, masa remaja adalah masa yang paling indah. Dimana semua ABG ( Anak Baru Gede ) penuh dengan keingintahuan baik tentang cinta maupun pengetahuan umum lainnya. Berbicara tentang cinta bagi anak remaja serasa tidak ada habisnya. Aku teringat suatu peristiwa saat aku masih duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama.

Waktu itu guruku mengadakan praktek berenang di luar sekolah. Kami praktek di Pantai Pa’ba’dilang. Aku merasa senang sekali. Bahkan, aku merasa terlalu senang. Sampai-sampai semalam sebelum keberangkatan, aku tidak tidur, memikirkan hal-hal yang akan aku lakukan besok.
Karena semalaman aku begadang, keesokan harinya aku bangun kesiangan. Aku memasukkan barang-barang yang akan kubawa ke dalam tas dengan tergesa-gesa. Dan pergi ke sekolah.
Di perjalanan, handphone ku tak berhenti berdering. Ketika ku periksa sudah 6 sms masuk dan 3 panggilan tak terjawab dari Refita.
Kamu udah di mana ? ( katanya pada sms yang pertama )
Udah di,,, ( belum selesai aku membacanya ).
Tiba-tiba handphone ku berdering. Aku berhenti membaca sms dari Fita. Dan menekan tombol hijau di handphone ku, lalu Aku langsung mengangkatnya, dan kudekatkan ke telinga kananku.
Fita : halo, assalamualaikum
Aku : waalaikum salam, ada apa Fit???
Fita : kamu udah di mana sekarang? Teman-teman udah nungguin. Tinggal kamu yang belum datang.
Aku : oh… iya maaf. Aku bangunnya kesiangan. Sekarang aku udah di jalan menuju kesekolah.
Fita : baiklah kalau begitu. Assalamualaikum
Aku : waalaikumsalam.
Selesai menerima telephone aku langsung mempercepat langkah kakiku.
Lima menit kemudian, aku sudah sampai di sekolahku, Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) Negeri 1 Benteng atau biasa disingkat ( SPENZA ). Di sana tampak beberapa temanku sudah menunggu sambil mengobrol santai. Ketika ku tanya pukul berapa bis yang akan kami tumpangi datang, seorang dari mereka menjawab sekitar pukul 09:00 wita.
Pukul Sembilan ? ( tanyaku keheranan ).
Iya,,, memangnya kenapa ??? ( Tanya salah seorang temanku yang bernama Irma ).
Aku melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tanganku, sembari menunujukkan padanya pukul berapa saat itu.
Lihat!! Sekarang baru jam delapan kurang 15 menit. Kalau bisnya datang pukul 09:00 berarti kita harus menunggu 1 jam lebih lagi, itupun kalau mereka tidak ingkar. Ah… kalau tau begini aku takkan datang terburu-buru. ( kataku kesal ).
1 jam kemudian, bus yang akan kami tumpangi pun datang. Usai berdoa, semua siswa berlomba-lomba menuju bis yang akan kami tumpangi, maklum takut nggak kebagian tempat duduk.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang kami pun tiba di pantai Pa’ba’dilang. Dari kejauhan aku melihat pemandangan yang begitu indah . aku segera berlari-lari kecil meninggalkan teman-teman ku.
Tapi, tiba-tiba kreeeeeeeeek…………………!
Suara aneh itu mengagetkanku, sekaligus membuat langkahku terhenti. Aku menundukkan kepalaku. Kulihat bagian depan sepatuku rusak bagai sobekan kertas dan parahnya aku tidak membawa sandal cadangan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu. Aku menyesal tidak mengindahkan nasehat ibuku agar aku membawa beberapa pasang sendal. Dan aku merasa malu, sangat-sangat malu. Ada begitu banyak orang di tempat itu, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerikku.
Melihat kejadian itu Fita langsung datang menghampiriku.
Ada apa ??? ( Tanya Fita )
Bagian depan sepatuku rusak ( kataku dengan volume suara kecil sembari menunjukkannya pada Refita ). Kamu duluan saja nanti teman-teman kita curiga ( lanjut ku ).
Baiklah aku duluan yah… ( katanya kemudian berlalu pergi ).
Aku berfikir sejenak. Lalu kulepaskan kedua sepatuku dan berjalan ke arah pantai. Dari dekat, aku takjub melihat lukisan alam yang sangat indah. Pantainya yang berwarna putih. Batuan kerikilnya, bagaikan mutiara yang berkilauan ketika di timpa sinar matahari. Air lautnya yang jernih berwarna biru kehijau-hijauan, plus udaranya yang sejuk dan masih segar, semakin menambah keindahan dan keeksotisan pantai Pa’ba’dilang. Tapi sayang, aku hanya bisa menikmati pemandangan di sekitar pantai. Padahal aku ingin sekali mengelilingi tempat itu bersama teman-temanku yang lain.

Setelah praktek berenang, aku mengambil tempat di pinggir pantai. Rasanya nyaman sekali. Aku bisa merasakan sejuknya udara pantai yang masuk ke tubuh ku. Dan segarnya angin sepoi-sepoi yang membuat rambutku berterbangan. Tapi, tetap saja, hatiku masih galau, jika memikirkan sepatuku yang rusak. Aku sudah mencoba melem kedua bagian yang rusak tapi tetap saja tidak bisa.
Sebentar pulangnya aku pake apa?
Masa’ aku harus jalan tanpa alas kaki?
Kan malu diliatin orang-orang!!!!
Pertanyaan itu selalu muncul di benakku hingga membuatku tidak betah.
Namun rasa itu hilang, ketika seorang pria berdiri di hadapanku. Tentu saja aku mengenalnya, dia adalah pria yang sedang kutaksir sejak awal panaikan kelas IX. Dan dia adalah pria pertama yang mampu membuat jantungku berdebar kencang ketika berada di dekatnya. Dia tampan, cerdas, dan juga baik hati.
Ini kau lebih membutuhkannya dari pada aku ( katanya sambil menyerahkan sepasang sendal ).
Aku jadi heran darimana dia tahu kalau aku sedang bingung mencari sendal.
Oh… tidak usah makasih ( jawabku menolak ).
Ayolah pakai saja, gak usah malu… aku ikhlas kok.
Tidak, makasih. ( jawabku singkat )
Baiklah, kalau kamu tidak mau memakainya, aku juga tidak akan memakainya ( katanya dengan nada bergurau )
Ngomong-ngomong kenapa kamu ada disini? ( tanyanya kemudian )
Aku lagi praktek berenang bersama teman-temanku. Kalau kamu kenapa bisa berada di sini?
Aku lagi mengisi waktu libur sama teman-temanku. Tapi kok jauh banget praktek berenangnya? Emangnya nggak ada tempat lain?
Em… yah.. hitung-hitung sekalian rekreasi,,, menikmati pemandangan alam.
Oh.. Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan? ( katanya menantang)
Boleh… siapa takut! ( sahutku balik menantang )
hujan!!! ( katanya memberi soal pertama )
Hujan jika terlalu deras bisa membanjiri dunia, jika tak ada hujan maka bumi bisa kekeringan dan takkan ada pelangi di langit. ( jawabku )
Sekarang giliran Kamu juga, angin!!!
Cinta itu seperti angin, jika menghirup terlalu banyak bisa kemasukan angin, jika terlalu sedikit bisa kekurangan oksigen, jadi pada intinya cintailah seseorang dengan biasa-biasa saja, jangan terlalu berlebihan. ( jawab pria berkulit putih itu )
Gimana kalau Ombak!!!
Cinta juga seperti ombak jika terlalu besar bisa menenggelamkan kita, tapi laut tanpa ombak akan kelihatan mati, seperti manusia tanpa cinta tak berbeda dengan mayat hidup. ( kataku penuh percaya diri )
Bagaimana dengan pelangi ( kataku memberi pertanyaan )
pelangi………
Aku gak tau ( jawabnya )
Berarti aku dong pemenangnya……
Emangnya kamu tau jawabannya apa??? ( Tanyanya kemudian )
Pelangi akan muncul setelah adanya hujan. Pelangi takkan muncul kalau tak ada hujan. Seperti manusia takkan mendapat hikmah sebelum melalui masalah yang berat.
Wah.. hebat! Sepertinya kamu berbakat jadi penyair. ( kata pria lugu itu sambil mengacungkan kedua jempolnya )
Andai kau tau, bagiku ketampananmu adalah hujan, yang selalu mencipta pelangi di mataku. ( kataku dalam hati )
Lalu Ia tersenyum padaku, hingga membuatku salah tingkah. Kami sama-sama diam tidak tau akan berkata apa lagi. Untunglah teman-temanku segera datang dan memecah kesunyian di antara kami. Mereka mengajakku untuk berenang dan berfoto bersama.
mmm………… aku duluan yah.. ( kataku padanya )
kemudian pergi mengikuti langkah teman-temanku yang sudah berada beberapa meter di depanku. Dalam benakku tercipta sebuah puisi berjudul “ pangeran impian “
dialah pangeranku
pangeran yang akan menjadi raja
di kerajaan cintaku
dialah pangeranku
bintang bersinar
yang akan selalu bersinar sepanjang masa
dialah pangeran
yang menguasai hati
jiwa dan fikiranku
dialah pangeran
dan akan tetap menjadi pangeran di hatiku
selalu untuk selamanya
Satu jam kemudian, guru pembimbing kami mengisyaratkan kami untuk segera berganti pakaian, dan pulang. Aku selalu berharap hari itu dapat terulang kembali dan jika itu terjadi aku berjanji akan membawa tiga pasang sandal bahkan lebih.
***

Setahun kemudian, tepatnya Minggu, 18 Maret, 2012.
Aku kembali mengunjungi tempat itu, dalam rangka penelitian di Tajuiya sekaligus rekreasi. Seperti janjiku setahun yang lalu, aku membawa tiga pasang sendal.
Dari dekat aku melihat pemandangan yang begitu indah. Tak ada yang berubah dari tempat itu, kebersihannya, keasriannya, keindahannya, tetap terjaga seperti dulu. ah… aku selalu merindukan masa-masa itu.
Hanya saja……… Ia sudah tidak berada di tempat itu. Yah.. dia telah pergi mengejar mimpinya di kota lain. Tapi, meski demikian aku akan tetap menunggunya kembali. Karena Ia telah berjanji padaku untuk kembali dengan membawa sejuta mimpi dan asa. Selamat berjuang pangeranku, aku akan tetap menantimu. ( kataku lirih ).
Aku mengambil tempat di pinggir pantai sambil berteduh di bawah pohon. Aku lalu mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen dari tasku. Di atas kertas putih itu kutuangkan kerinduanku lewat sebuah puisi yang berjudul “ kerinduan “
Kerinduan
Inginku menatapnya walau hanya sekejap
Namun itu hanyalah mimpi belaka
Dia takkan kembali untukku
Inilah takdir yang harus ku terima

Akankah sosok itu kembali menyapaku?
Resah hatiku
Tiap memikirkannya
Ingin rasanya bertemu dengannya
Ketika kurasakan sayup-sayup
Angin membelai lembut wajahku, namun meski tak bertemu dengannya

Senyum manisnya yang menawan
Akan selalu kukenang di hatiku dan
Raut wajahnya yang tampan kan tetap menjadi
Impian di hatiku
end
PROFIL PENULIS
Nama : Andini Nurul Aulia
Alamat : lembang mate'ne benteng Selayar
Nama facebook : andini nurul aulia
Sekolah : SMA Negeri 1 Benteng

Bagi sobat blogger yang suka dengan cerpen ini, silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id/, atau download filenya di sini :
Download Button

Jumat, 15 Juni 2012

Cerpen : Air Mata

“ada yang lain di senja ini?” begitu kata hatiku bertanya, ketika kupandangi matahari senja yang terus meluncur dan siap bersembunyi di balik cakrawala.
“ada apa, mengapa angin di pantai ini tak sesepoi dangan senja kemarin?” kata hatiku terus bertanya disaat mataku menatap debur ombak yang sesekali datang menyapa putihnya pasir pantai.

Sekurang-kurangnya puluhan pasang muda-mudi ada di pantai itu. Belasan anak lagi bermain sambil berlarian menelusuri garis pantai memutih salju. Kupandangi mereka terus yang lagi asyik menikmati matahari senja sambil tersenyum
“aku yakin, pasti mereka tak sadar bahwa ada yang lain di pantai ini!” bisik hatiku pada angin menyambar daun telingaku.
Matahari senja semakin enggan tampakkan tubuhnya. Ku terus duduk dan sesekali menghisap rokok yang ada di sela-sela jemariku. Debur ombak masih seperti yang tadi hanya sesekali manyapa dan menciumi pasir putihnya pantai.

Mungkin lantaran matahari senja yang sudah enggan nampakkan wajahnya, satu persatu pasangan pemuda itu beranjak dari tempat duduknya menuju kendaraannya masing-masing. Begitu pun dengan belasan anak-anak itu. Wajah menggambarkan sangat kelelahan bermain, mereka pun berembuk pulang ke peraduannya masing-masing.
Kini, tak sedikit pun wajah matahari senja yang nampak lagi. Satu persatu bintang gemintang bermunculan dengan memainkan tarian kedipnya. Akupun seakan-akan terjebak dalam penjara malam. Ku berniat beranjak dari tempat lamunku, namun berat rasanya ketika tiba-tiba kupandangi 2 genangan Air Mata di tempat yang berbeda. Semakin ku pandangi 2 Air Mata itu, ingin rasanya aku menyapanya dan bertanya padanya.
Malam semakin larut, selarut pandanganku ke arah Air Mata yang entah milik siapa. Tak terasa tubuhku gemetar, hatiku berdebar bagaikan dentuman rebana mengiringi tarian sayyang pattu’du. Heran. Mengapa aku begini?

Malam semakin sepi, di pantai terbuyar seketika di saat teriakan berkumandang di gendang telingaku “PELACUUUR”. Entah suara dari mana, yang ada hanya 2 leningan air mata menemani kesendirianku.
“apa aku bermimpi?” tanya hatiku semakin menyimpan rasa tanya mendalam.
“tidak, aku tidak bermimpi?” bisik hatiku si sudut lain.

Sura debur ombak semakin tak terdengar lagi. Kuharap angin datang menyapa, namun tak sudi jua. Entah itu rasa apa, tak terasa olehku kedua telapak kakiku malangkah menuju ke genangan Air Mata yang seolah-olah ingin membentuk sebuah telaga air mata.
“kamu milik siapa?” sapaku di Air Mata pertama
“aku air mata seorang wanita!” jawabnya penuh rasa haru.
“tapi mengapa kamu ada di pantai ini?” tanyaku dengan rasa ingin tahu.
“aku dibuang di sini karena wanita itu sakit hati karena ia tahu ia talah disia-siakan oleh seorang pria yang sangat dicintainya”

Tiba-tiba aku termenung dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Kuputuskan tuk beranjak darinya. Lalu ku coba mendekat dan menyapa Air Mata yang ke dua itu.
“mengapa kamu ada di sini juga?” tanyaku persis sama dengan Air Mata milik wanita itu.
“aku adalah air mata seorang pria yang menyia-nyiakan cinta dari seorang wanita yang sangat mencintainya”.

Angin yang dahulu enggan bertiup, kini mulai membisik di ke dua daun telingaku. Debur ombak yang enggan menyapa bibir pantai kini mulai terdengar dan terlihat bergantian menggulungkan tubuhnya lagi.
Entah itu karena siapa? Apakah mereka terharu mendengar pengakuan 2 genangan Air Mata itu, ataukah teriakan kata “PELACUR” tadi.
Aku yang kini hanya bisa terdiam dan termenung memikirkan diriku sendiri.
“apakah aku brsalah?” kata hatiku kemudian bertanya lagi. Lalu akupun pergi dan beranjak dengan menghapus 2 genangan Air Mata itu yang telah kugantikan menjadi 1 genangan Air Mata milikku sendiri, lalu ku tinggalkan untuk mewakili air mata milik wanita dan pria di pantai itu.

POLEWALI MANDAR
PROFIL PENULIS
Ilham, ketua Umum Gerakan Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Al Asyariah Mandar dan Warga Padepokan Sastra MPU Tantular

Bagi sobat blogger yang suka dengan cerpen ini silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id/, atau download filenya di sini :
Download Button
Sumber http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-remaja.html

Cerpen : Kurelakan Kebahagian Ini Untukmu

Sumber http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-remaja.html

Saat di rumah sakit telah lahir bayi kembar yang di beri nama Febby dan Debby. Raut wajah mereka berdua sangatlah mirip. Tapi kasih sayang yang di berikan orang tua mereka berdua berbeda sedangkan Febby tak pernah begitu di manja berbeda dengan adiknya Debby.

Tiga belas tahun berlalu, Febby dan Debby pun tumbuh menjadi gadis yang cantik. Semakin lama kondisi Debby semakin melemah ia sangat memerlukan seseorang yang mau mendonorkan ginjal nya untuk Debby. Itu lah sebabnya Debby lebih di sayang di bandingkan kembarannya Febby.

Kini Febby telah mempunyai pacar yang selalu ada di dekatnya ialah Daffa. Febby sangat sayang terhadap Daffa begitu pula dengan Daffa.Namun tak sengaja pada suatu saat Febby sedang masuk ke kamarnya Debby untuk meminjam buku, ia malah melihat buku diarynya Debby terletak begitu saja di kasurnya karna Debby sedang tidak ada di kamarnya akhirnya Febby membaca isi buku diary milik Debby. Ternyata saat Febby membaca isi buku diary milik Debby ia sungguh tak percaya bahwa sebenarnya Debby juga menyukai Daffa.
Suatu hari Febby teringat kalau Debby sangat membutuhkan donor ginjal. Febby sungguh tak tega melihat kondisi kembarannya yang semakin melemas, Febby merasa bahwa ia lah yang harus menolong Debby hingga akhirnya Febby pun ingin bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Debby. Febby juga tak mau melukai hati Debby oleh sebab itu ia ingin melihat Daffa untuk Debby.
***

Minggu pagi yang cerah, Febby dan Daffa sedang bersepeda dengan riangnya. Tapi suasana mulai berbeda saat Febby berhenti menaiki sepedanya.
“Daffa, maaf mungkin kau bukanlah untuk ku. Aku ingin sekali melihat engkau untuk kembaranku Debby, sebenarnya ia menyukaimu Daffa” ucap Febby dengan air matanya yang sudah berlinang
“Tapi…” Daffa berhenti sejenak berbicara. “Tapi Febby aku masih sangat menyayangimu” kata Daffa yang sedang terlihat kecewa
“Seharusnya kalau kamu memang sayang pada ku, aku mohon Daffa kamu mau ya bersama Debby. Saat ini aku sangat kasian melihat kehidupan Debby yang sangat berbeda dengan ku, aku merasa mungkin aku harus menolong Debby dan aku akan mendonorkan ginjalku untuknya” timpang Febby yang sedih
“Seharusnya ini bukan berarti kamu harus memberikan semua kebahagiaan yang kamu miliki ini untuk Debby. Aku minta kamu segera merubah pikiranmu untuk tidak mendonorkan ginjal mu untuknya” jawab Daffa dengan perkataannya yang halus
“Gak akan Daffa, aku hanya ingin menolong orang yang selama ini aku sayangi” ucap Febby
***

Sekarang Febby pun telah mendonorkan ginjalnya untuk Debby tapi kini semakin hari kondisi Febby mulai melemah tak seperti Debby yang terlihat sehat.Febby memang begitu baik terhadap kembarannya Debby, ia selalu menolong Debby seperti saat Debby sakit pasti Febby lah yang merawatnya tapi kenapa saat sekarang kondisi Febby sedang tidak membaik Debby malah tidak mau merawatnya, ia malah seakan puas dengan apa yang sekarang telah ia miliki. Kini Debby juga sudah mendapatkan lelaki yang ia sukai Daffa, sebenarnya Daffa pun tak menyukai Debby hanya saja ia menuruti apa yang selama ini Febby minta.

Dua tahun berlalu…Febby semakin tak kuat dengan rasa sakit yang selalu ia alami yang seakan semakin parah.Kehidupannya yang kini juga sangatlah berbeda jauh tak seperti saat kondisinya sehat, kini Febby hanya bisa menangis dan meratapi apa yang sekarang ada pada dirinya. Hingga akhirnya setelah tak berapa lama Febby pun telah meninggalkan kehidupannya. Debby pun sudah tak dapat lagi menahan tangis kepedihan matanya melihat saudara kembarnya telah terbujur kaku dengan kain putih yang menyelimutinya. Debby sangat menyesal karna ia telah mau menerima donor ginjal dari Febby ia lebih ingin kehidupannya kembali seperti saat dulu lagi begitu juga saat ia belum memiliki Daffa.

***SELESAI***

Ending :
Cerpen “Kurelakan Kebahagiaan Ini Untukmu” mengisahkan tentang kehidupan seorang saudara kembar yaitu Febby dan Debby. Namun, kehidupan Debby tak seindah layaknya saudara kembarnya Febby. Yang membedakannya karna Debby tak selalu mendapatkan kebahagian tak seperti Febby, Febby di anugrahi tuhan dengan kondisinya yang sehat berbeda dengan Debby, Febby juga mempunyai pacar yaitu Daffa yang selalu membuat kehidupannya semakin sempurna. Semakin lama akhirnya Febby merasa kasihan dengan kehidupannya Debby yang sangat berbeda dengannya. Akhirnya Febby pun memberikan semua kebahagiannya dengan tulus untuk Debby bahkan pun nyawanya.

PROFIL PENULIS
Nama : Yunita Anggraini
Pendidikan : JHS
TTL : 7 juli 1999

Bagi sobat blogger yang suka dengan cerpen ini, silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id/, atau download filenya disini :

Download Button

Minggu, 10 Juni 2012

Cerpen : Partner

Sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/01/cerpen.html

Meila berusaha menahan amarahnya. Tapi sepertinya darahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Meila membentak Kindy, cowok teman sekelas yang selalu terlambat sekolah sejak kelas satu catur wulan satu sampai sekarang sudah masuk 2 bulan. “Kau ini kenapa selalu terlambat, sih? Gara-gara kau, aku selalu saja harus absen 2 kali dalam sehari! Bisa tidak, sih, kau datang lebih awal?” Meila membelalak bengis pada Kindy.

Sebenarnya Meila tidak mau marah-marah pada Kindy. Tapi Kindy sudah keterlaluan karena setiap hari ia selalu datang terlambat ke sekolah. Hal itu menyebabkan Meila harus absen 2 kali, bolak-balik ke piket. Untungnya guru yang seharusnya mengajar tidak masuk karena ada rapat di sekolah lain, dan baru akan masuk di jam ke-2.
“Setiap hari kau selalu telat! Senin sampai Sabtu!” Meila benar-benar marah.
Kindy hanya tersenyum. Ia meletakkan tas cokelat tuanya di bangku paling belakang. Meila yang bangkunya di depan mengikuti Kindy yang kini tengah mengeluarkan buku Fisika dari tasnya.
“Kau tidak menghargaiku sebagai KM, ya?” Meila kembali membentak Kindy. Meila menggebrak meja Kindy. Meila tahu, teman-teman sekelasnya pada berbisik. Ada juga yang menertawakan.
Kindy menghela napas. “Maaf, Meila. Bukannya aku tidak menghargaimu, tapi sepagi-paginya aku bangun, aku selalu telat. Aku ingin kau memaklumi.” Hanya itu yang Kindy katakan. Setelah itu Kindy membuka buku Fisikanya dan mulai membacanya.

Meila merah padam. Ia berbalik dan segera pergi ke tempat guru piket untuk meralat absen. Teman-temannya tertawa di belakangnya. Pulang sekolah, karena penasaran, Meila membuntuti Kindy. Saat Kindy naik bus lewat pintu depan, Meila naik dari pintu belakang. Tatapan Meila tidak lepas dari punggung Kindy.  Kindy menyisir poninya yang dipangkas ala Tin-tin sedangkan tangan yang lain memegang palang di atasnya, agar ia tidak terjatuh.
“Meila.” Tiba-tiba seseorang menegurnya.
“Eh, Anton, hai….” Meila salah tingkah.
“Kok naik bus ini? Bukankah jurusannya berlawanan arah dengan rumahmu? Mau ke mana?”
“Eh, aku ada urusan.” dalih Meila. Dan ketika dilihatnya Kindy turun, Meila pamit pada Anton dan bergegas turun. Meila terus membuntuti Kindy dari belakang. Lama-lama tikungan yang dilewati semakin banyak, dan itu membuat Meila bingung. Tapi khirnya tiba juga di sebuah gang yang paling ujung. Jalan buntu. Dan di ujung gang inilah Kindy tinggal. Meila mengendap-endap ke halaman rumah Kindy.

Rumah Kindy tidak besar namun terawat dan bersih. Rerumputannya dipangkas rapi. Di halaman depan ditanami pohon mangga yang mangganya tampak sudah masak dan lebat pula. Meila ingin sekali menikmatinya. Wajahnya merah padam. Apa-apaan, sih? Aku ‘kan ke sini bukan untuk mangga! Meila mengintip dari jendela samping rumah Kindy.
“Aduh, Addy, Randy!” Kindy menggendong kedua adiknya yang tadi bermain di lantai. “Lihat baju kalian, kotor sekali! Lady, kenapa kau tidak menjaga adik-adikmu?”
Meila berjinjit. Ia melihat seorang gadis, kira-kira kelas 2 SMP, muncul ke ruang tamu. “Maaf, Kak Kindy. Lady juga baru pulang. Tapi tadi waktu Lady baru pulang, si kembar masih anteng, kok.”
Kindy memberikan adik kembarnya pada Lady. “Tolong ganti bajunya.” Kemudian ia sendiri membawa jambangan bunga yang masih berisi air. “Untung ini jambangan plastik.”
Wah, gawat, Kindy menuju ke arahku! Meila buru-buru berjongkok. Sayangnya, Kindy membuang air jambangan tepat di atas Meila. Meila menjerit kaget, membuat Kindy terlonjak. “Wah, Meila, maaf!” Tiba-tiba Kindy melongo. “Meila, kenapa ada di sini?”
Meila nyengir. Ia tersipu. Dilambaikannya tangannya. “Hai, Kindy….”
***

Meila menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia menelentangkan tubuhnya. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang putih bersih. Meila menghela napas. Aku sungguh bodoh! Kenapa aku langsung menyalahkan Kindy sering terlambat…padahal aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Meila menutup mata dengan kedua tangannya. Kindy tidak marah akan perbuatan Meila. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Kau mau tahu kenapa aku selalu telat, ya?”
Saat itu Meila hanya tertunduk. Kindy tersenyum dan mengajaknya masuk. Kindy membawakan handuk dan menawarkan baju ganti. Meila menatap kaos putih bergambar Felix yang kini digantungnya di kursi di kamarnya. Lalu ia kembali mengingat kejadian di rumah Kindy. Meila melihat Kindy mengepel lantai, lalu menyeduh teh untuknya. Teh itu wan gi dan nikmat.
Kindy duduk di sofa lain. Ia memangku adik kembarnya yang telah berganti baju. “Addy, Randy, kakak itu namanya Meila. Ia adalah KM yang tegas, bertanggung jawab, dan rajin.” Kindy tersenyum. Adik kembarnya berusia kurang lebih satu tahun. Mereka tertawa dan berusaha menggapai Meila. Meila mendekat dan mencium si kembar. “Hati-hati, mereka bandel.”
Benar saja, kini rambut Meila sudah dijambak oleh Randy, yang mempunyai tahi lalat di dekat alisnya yang tebal. Kindy membantu melepaskan jambakan Randy lalu membawa kedua adiknya ke belakang. Adiknya menjerit dan menangis. Kindy kembali duduk di sofa, ia meminta maaf soal adiknya. Meila hanya tersenyum mengerti. Kindy menghela napas sambil menyandar di bahu sofa. “Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untukmu….”

Tiba-tiba Ibu Kindy memanggil dari dalam rumah. Meila tadi sudah berkenalan sekilas dengan Ibu Kindy. Ibunya ramah, agak gemuk, dan cantik. Rambutnya digelung dan tanpa make-up.
“Maaf, Mei, aku masih banyak kerjaan. Sebentar, ya, aku ke belakang dulu.” Beberapa saat kemudian Kindy kembali lagi. “Ibu mengizinkan aku mengantarmu sampai jalan raya.”
Meila pamitan pada Ibu Kindy. “Ya, Nona, lain kali mampir lagi, ya.” Ibu Kindy menjabat tangannya, lalu Meila mencium punggung tangan Ibu Kindy.
Saat berjalan kaki ke jalan raya, entah kenapa Kindy tampak keren dan menarik di mata Meila. Atas permintaan Meila, Kindy menceritakan alasan kenapa ia setiap hari terlambat ke sekolah. Alasannya adalah karena ia setiap pagi harus menyapu, mengepel, memandikan kedua adiknya, memasak air, mencuci piring, mencuci baju dan menjemurnya. Lady, adiknya yang nomor dua hanya bertugas untuk menyetrika baju. Ibu dan Ayahnya harus berangkat dini hari untuk bekerja. Ayahnya mengumpulkan kayu untuk dijual, sedangkan Ibunya menjual sayur-mayur di pasar.

Kindy juga harus memasak makanan untuk adik-adiknya. Selama Kindy dan Lady sekolah, kedua adik kembarnya dititipkan di tetangga sebelah. Dan siangnya, Kindy atau Lady harus menjemput mereka. Tapi tadi kebetulan tetangga itu menjaga Addy dan Randy di rumah Kindy. Ibu Kindy tadi pulang sekitar pukul setengah empat. Dan kini sudah pukul empat lebih.
“Ditambah… perjalanan dari rumah ke jalan raya memakan waktu yang lama. Jadi kumohon kau maklum.” Ujar Kindy dengan senyum ragu. “Orang tuaku sudah dipanggil 3 kali dalam sebulan ini. Dan akhirnya para guru maklum.”
Hari ini Kindy memang terlihat keren. Meila merasa bodoh karena ia terlalu menyalahkan Kindy. Padahal Meila di rumah tidak pernah mengerjakan apa-apa karena ada Mbok Nah, Bi Ani, dan Mang Ujo.
Lama-lama Meila mengantuk dan akhirnya terlelap hingga Shubuh. Meila mandi dan sholat, lalu belajar selama 20 menit. Meila membuka jendela, ia dapat melihat matahari yang baru terbit dengan sinarnya yang kemerahan.
Setelah rapi, Meila turun ke bawah. Ia memperhatikan Mbok Nah yang sedang memasak dengan Ibunya, dan Bi Ani yang sedang mencuci baju dengan menggunakan mesin cuci. Meila bertanya-tanya dalam hati apakah di rumah Kindy ada mesin cuci.

Ternyata di rumah Kindy tidak ada mesin cuci. Meila menanyakannya pada Kindy saat istirahat.
“Kenapa bertanya begitu?” Kindy tersenyum.

Meila malu akan kelakuan bodohnya. Ia nyengir malu. “Aku hanya penasaran saja. Eh, ayo kita makan di kantin.”
“Aku bawa bekal, kau mau?”
“Boleh?” Meila duduk di sebelah Kindy. “Kau hebat sekali, Kindy! Masih sempat membuat bekal sendiri, aku sih….” Wajah Kindy tersipu, membuat Meila ingin menggodanya lagi. “Kindy, aku ingin menjadi temanmu.”

Kindy memberikan sebagian bekalnya pada Meila. “Kita ‘kan sudah berteman.”
“Iya, ya.”
Saat kelas 2 SMA, Meila sekelas lagi dengan Kindy. Dan mereka semakin akrab. Pada pertengahan catur wulan 2, Kindy tidak pernah terlambat lagi karena ia memiliki sepeda motor yang dibeli dari sisa uang jajannya dan uang hasil kerja sampingan.

Meila sangat kagum pada Kindy. Kindy sangat pintar mengaji, rajin sholat, dan aktif di ekskul Pramuka. Ia sangat rajin mengerjakan tugas-tugas di rumah. Di sekolah pun ia selalu masuk 3 besar.
“Ah, seandainya aku bisa mendampinginya….” Wajah Meila memerah. “Ah, tapi itu terlalu dini. Lagipula mana mau Kindy sama aku….”
“Aku, sih, kalau Meila, mau saja….”
“Kindy?” Meila tersipu. Ia salah tingkah, sehingga selang air yang sedang dipegangnya menyiram Kindy. “Wah, maaf!”
Kindy tersenyum. “Tidak apa-apa, lagipula salahku mengejutkanmu. Aku ingin memberikan ini.” Kindy menyerahkan plastik hitam besar padanya. “Hasil dari kebun.”

Meila membuka plastik dan melihat banyak mangga matang dan harum. “Wah, terima kasih, ya, Kindy! Aku senang sekali! Masuk dulu, yuk!”
“Tidak usah, aku ada kerja part-time. Meila, aku ingin mengatakan…kalau aku suka padamu.” Kindy tersipu. “Yuk, aku pergi dulu. Sampai nanti!” Kindy menaiki motornya. Ia tersenyum, lalu berlalu.
Meila masih bingung dengan ucapan Kindy. Tapi kemudian ia sadar dan ia meloncat kegirangan. “Syukurlah, Kindy, aku juga suka padamu!” Lalu ia kembali menyirami bunga dengan hati yang berbunga-bunga. Meila tidak menyangka akan pernyataan Kindy. Untunglah dulu aku jadi KM, dan Kindy selalu telat sekolah. Kalau memang sudah jodoh….
TAMAT
Kamis, 21 Maret 2002

PROFIL PENULIS
Nama: Putri Permatasari
TTL : 12 Mei 1986
E-mail: putri_comics86_ydws@yahoo.com
Hobi : Menulis, menggambar, membaca, mencuci baju
Fb: putri_comics86_ydws@yahoo.com

Buat sobat blogger yang suka dengan cerpen ini silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id, atau download filenya di sini:

Download Button
Sumberhttp://www.lokerseni.web.id/

Cerpen : Aku Memang Harus pergi

Sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/01/cerpen.html

Terpuruk, dalam kesedihan, mencoba menghibur diri sendiri karena tidak ada yang bisa membuat diri ini tersenyum kembali. Aku tak tau harus kucari kemana kebahagiaan ku yang tiba-tiba menghilang. Butuh waktu ku untuk menerima ini semua.
“hai ray, nglamun ajah” kata Diana mengagetkanku
“ehm lu dian, ngagetin ku aj”
“lu sih, ngalamun ajah, mikirin apa sih”
“ah gag kok,gag ada,”
“gag usah bohong de, gue tau lo pasti lagi ada masalah, iya kan?”. Desak dian
Aku tak menjawab, hanya menghela nafas panjang, aku memang tak bisa berbohong dihadapan Diana.
“gue gag papa kok dian, gue Cuma lagi pengen sendiri ajah” jawabku
“heh lo ni kebiasaan, kalu ada masalah, pasti diem, kalau ada masalah itu diselesein dong ray, jangan didiemi”
Aku tak menjawab hanya diam menunduk. Akhirnya Diana menyerah
“ya udah ,terserah loe, yang penting lo tau kan kalu lu mau cerita and butuh bantuan loe tinggal nyari gue” kata Diana sambil menepuk punggung ku
Aku hanya menganggugkan kepala dan tersenyum padanya, lalu kembali tenggelam kedalam buku-buku ku. Diana lalu pergi membiarkan ku sendiri. Dia memang mengerti kalau aku sedang begini aku lebih suka menyendiri dan tak ingin diganggu.

Pulang kuliah, aku langsung masuk dalam kamar kosanku yang kecil, maklum namanya aja juga kosan. Otakku,badan dan hatiku terasa tidak karuan. Membuatku sangat lelah, dan ingin segera memejamkan mata. Aku ingin sejenak istirahat dari rutinitas ini, aku ingin sejenak bisa melupakan masalahku.

Tanpa terasa justru air mata ku menggenang, diujung pelupuk mataku, mengalir pelan membentuk aliran-aliran kecil seperti anak sungai dipipiku. Mengapa akuu begitu rapuh. Mengapa aku selalu rapuh dan lemah dalam masalah percintaan. Aku selalu menjadi yang harus selalu mengalah.

Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang dulu pernah aku lalukan, tanpa aku sadari aku telah menghancurkan hubungan saudaraku sendiri, dan kini saat semuanya telah kembali membaik, sahabatku sendiri mencintai saudara ku, konsekuensinya aku harus rela jauh darinya, aku benar-benar tak iklas jauh dari nya sahabat baikku.

“maaf teman, mungkin setelah ini kita akan jauh” kata rey
“iya aku mengerti, aku juga tidak ingin ada salah paham” jawabku
Lalu rey pergi, ketika dia berkunjung kerumahku pun aku tak akan menemuinya. Aku tak akan mengganggunya dengan vey kakakku. Sakit memang aku harus melepaskan sahabatku.
“udahlah ray, jangan terlalu dipikirin, masih banyak orang yang mau jadi sahabat kamu, yang selalu ada buat kamu” kata Diana menyemangatiku.
“makasih ya dian. Mungkin ini jalan yang terbaik, aku memang harus bisa mengerti”

Aku tak mengerti kalau persahabatanku akan berakhir dengan cara begini, aku tak mengerti mengapa urusan cinta akan menghancurkan persahabatan kami. Aku benar-benar tak mengerti, kenapa aku yang harus selalu disalahkan. Aku tak mengerti benar-benar tak mengerti. Kini keadaan telah memaksaku untuk jauh dari orang –orang yang aku sayang.
Aku harus rela jauh dari sahabatku sekaligus orang yang aku sayangi. Dalam hatiku aku marah, aku kecewa, aku sedih, tapi apa daya, aku hanya bisa melepasnya, melepaskan genggaman tangannya. Entah kapan aku bisa mengengam tangannya kembali

Mungkin kita memang tidak bisa bersama-sama lagi seperti dulu, mungkin aku harus rela jauh darimu teman, sebenarnya aku gag rela kau jauh dari , tapi aku akan belajar.untuk itu Kini aku akan pergi jauh, aku akan pindah ke Jakarta. Setelah ini kau tidak perlu lagi menjauhi ku. Besok pagi jam 7 aku akan berangkat kejakarta dengan pesawat.semoga kau bahagia dengan hidupmu sekarang.

Itu adalah pesan terkhirku untuk rey, setelah itu no ku tak kuaktifkan lagi. Sampai aku tiba di Jakarta, hp ku masih tak kuaktifkan. Entah apa balasan rey, entah dia membalas atau tidak. Aku langsung tidur, dan tak ingin keluar dulu.
“hai ray, udah bangun” tante masuk kamarku
“oh tante, ia tante, maaf ya tante aku kesiangan” kataku sambil menunduk
“ia gag papa,kamu uga pasti kecapean kan!” kata tante dengan senymnya, dan membelai rambutku.
“ya udah kamu cepet mandi, tante tunggu diruang makan untuk sarapan” kata tante lalu keluar dari kamarku. Aku hanya mengangguk. Lalu aku memalingkan mukaku pada benda kecil itu. Hanfonku, ku raih benda itu dan aku aktifkan. Stelah aku aktifkan. Banyak sekali pesan masuk. Ad sekitar 20 pesan. Aku buka satu persatu, aku tuju satu nomer disana. Rey ya rey, ya dia
“maafkan aku teman, aku tau aku salah, tapi aku juga tak tau harus bagaimana, aku tak bermaksud menjauhimu, tapi aku juga takut vey marah. Setelah aku tau kau akan pergi kejakarta, aku langsung pergi kekosmu, tapi kau tidak ada,aku pergi kebandara, menunggumu, tapi aku juga menemukanmu.kini aku merasa kehilanganmu sahabatku.nomormu juga tidak aktif trus.aku tau kau memang marah besar padaku. Aku memang pantas mendapat kemarahanmu, tapi aku ingin berjumpa denganmu”

Setelah kubaca pesan dari rey, kubalas sinkkat
“maaf rey,semuanya sudah terlambat.aku tidak akan pulang lagi kepalembang dalam waktu beberapa tahun lagi, jangan hubungi aku lagi.”

Hatiku terlalu sakit, aku melakukan semua ini bukan karena aku tak merestui hubungan merka, bukan karena aku membencinya, tapi aku ingin melupakan semuanya, karena aku terlalu sayang dengan mereka. Aku tak ingin melihat diantara mereka ada yang tersakiti. Sudah aku putuskan untuk pergi jauh dari mereka.
Setiap sms dan telefon dari rey tak ada satupun yang aku terima. Aku telah bertekat untuk melupakannya. Aku tak mau menjadi penghancur hubungan orang. Biarlah aku yang merasa sakit, karena aku sudah terbiasa. Mungkin ini sudah menjadi jalanku. Semuanya pasti akan indah pada saat nya nanti, dan sekarang aku memang harus benar-benar pergi.

Karya: Sri Hasih Nurhayati

Buat Sobat Blogger yang suka dengan cerpen ini, silahkan kunjungi http://www.lokerseni.web.id/, atau download filenya disini :
Download Button

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons